Ibrahim Bapak Tauhid Umat Manusia: Tuhan Yang Satu, Jalan yang Berliku
Miftah yusufpati
Ahad, 20 Juli 2025 - 05:45 WIB
Dalam kisah-kisah Qurani dan percakapan para nabi dengan umat-umat mereka, pola itu berulang. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di bawah langit yang sama, di antara gunung batu dan padang pasir, manusia pernah begitu mudah menyerahkan diri pada patung batu, api, hewan, bahkan sesamanya. Dari Mesir hingga Mesopotamia, dari India hingga Arab, manusia membungkuk kepada makhluk yang mereka anggap berkuasa atas hidup mereka. Tapi mengapa makhluk? Mengapa bukan Pencipta?
Pertanyaan itu dijawab tajam oleh Ja’far Subhani dalam Ar-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW. Menurutnya, akar penyembahan manusia kepada makhluk bukanlah karena mereka tidak tahu ada Tuhan. Justru, mereka mengakui bahwa semesta ini pasti ada penyebabnya. Akan tetapi mereka tersesat di tengah jalan: kebutuhan kodrati untuk mencari perlindungan dan otoritas yang lebih besar membuat manusia berhenti di batu, pohon, binatang, atau manusia yang dianggap kuat, dan menganggapnya sebagai Tuhan.
“Mereka melihat sistem yang unik ini,” tulis Subhani, “dan karena tak ada pemandu Ilahi, mereka mencari perlindungan pada makhluk-makhluk tak-bernyawa sebelum mencapai tujuan sesungguhnya: Tuhan Yang Esa.”
Fenomena itu membuat tugas para nabi bukanlah meyakinkan manusia bahwa Tuhan ada — karena itu sudah mereka percayai. Tugas para nabi, sejak Ibrahim sampai Muhammad, adalah memutus cengkeraman syirik, politeisme, dan berhala. Misi mereka adalah memurnikan pengakuan itu, menyatakan bahwa Tuhan yang mereka akui keberadaan-Nya adalah Esa, tanpa mitra, tanpa sekutu.
Baca juga: Tauhid Tak Sekadar Ilmu: Jejak Sejarah, Politik, dan Pergulatan Akal dalam Dunia Islam
Kalimat kunci yang dibawa Nabi Muhammad, “La ilaha illallah” — tiada Tuhan selain Allah — menjadi bukti bahwa bagian pertama dari keyakinan itu sudah diterima umat Arab: mereka sudah mengakui adanya Tuhan. Yang ditentang mereka adalah bagian kedua: menolak semua mitra Tuhan, membebaskan Allah dari segala persekutuan makhluk.
Dalam kisah-kisah Qur’ani dan percakapan para nabi dengan umat-umat mereka, pola itu berulang. Manusia tidak benar-benar ateis, tetapi monoteisme murni terasa asing. Setiap generasi mengulang jalan berliku itu: mencari Tuhan, tersesat di perhentian-perhentian yang semu.
Pertanyaan itu dijawab tajam oleh Ja’far Subhani dalam Ar-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW. Menurutnya, akar penyembahan manusia kepada makhluk bukanlah karena mereka tidak tahu ada Tuhan. Justru, mereka mengakui bahwa semesta ini pasti ada penyebabnya. Akan tetapi mereka tersesat di tengah jalan: kebutuhan kodrati untuk mencari perlindungan dan otoritas yang lebih besar membuat manusia berhenti di batu, pohon, binatang, atau manusia yang dianggap kuat, dan menganggapnya sebagai Tuhan.
“Mereka melihat sistem yang unik ini,” tulis Subhani, “dan karena tak ada pemandu Ilahi, mereka mencari perlindungan pada makhluk-makhluk tak-bernyawa sebelum mencapai tujuan sesungguhnya: Tuhan Yang Esa.”
Fenomena itu membuat tugas para nabi bukanlah meyakinkan manusia bahwa Tuhan ada — karena itu sudah mereka percayai. Tugas para nabi, sejak Ibrahim sampai Muhammad, adalah memutus cengkeraman syirik, politeisme, dan berhala. Misi mereka adalah memurnikan pengakuan itu, menyatakan bahwa Tuhan yang mereka akui keberadaan-Nya adalah Esa, tanpa mitra, tanpa sekutu.
Baca juga: Tauhid Tak Sekadar Ilmu: Jejak Sejarah, Politik, dan Pergulatan Akal dalam Dunia Islam
Kalimat kunci yang dibawa Nabi Muhammad, “La ilaha illallah” — tiada Tuhan selain Allah — menjadi bukti bahwa bagian pertama dari keyakinan itu sudah diterima umat Arab: mereka sudah mengakui adanya Tuhan. Yang ditentang mereka adalah bagian kedua: menolak semua mitra Tuhan, membebaskan Allah dari segala persekutuan makhluk.
Dalam kisah-kisah Qur’ani dan percakapan para nabi dengan umat-umat mereka, pola itu berulang. Manusia tidak benar-benar ateis, tetapi monoteisme murni terasa asing. Setiap generasi mengulang jalan berliku itu: mencari Tuhan, tersesat di perhentian-perhentian yang semu.